Ibu Ku Malaikat Tak Bersayap
Ibu Ku Malaikat Tak Bersayap
(Oleh: Vegia Oviensy)
Rintik hujan dengan suara yang menenangkan serta udara dingin yang teramat menyejukkan, membuat siapapun enggan beranjak dari tempat tidurnya. Pagi ini hujan mengguyur kota kecil tempat tinggalku.
Azi Arsyahla seorang gadis berhijab dengan gaya pakaian yang sederhana, umurku 17 tahun berkulit putih dengan dua lesung pipi dengan tinggi 152 cm. Syahla begitulah aku akrab di panggil. Aku tinggal bersama umi dan abiku. Aku masih menyandang status sebagai seorang pelajar di sebuah madrasah aliyah di kota ini, abiku seorang pegawai negeri disebuah kantor pemerintah sedangkan umi ku seorang guru agama di sebuah sekolah dasar.
Pagi ini, efek samping dari butiran bening yang berjatuhan dari langit membuatku begitu enggan untuk membuka mata dan beranjak dari sebuah bilik kecil di sudut ruang tamu. Sekilas terdengar suara yang masih samar-samar di telingaku,” syahla, bangun nak” suara yang semakin lama semakin jelas di iringi ketukan pintu yang berkali-kali.
Semakin keras suara ketukan pintu, semakin enggan mata ini untuk terjaga. “ syahla bangun, ini sudah jam 8 nak telat loh kesekolah katanya lagi ujian” spontan mataku terbuka dan bergegas membuka pintu berlari menuju kamar mandi tanpa menghiraukan seseorang yang masih tersenyum berdiri di depan pintu kamarku.
Setelah mandi, terlihat senyum aneh dibibir seoarang malaikat tak bersayap di rumah ini, masih tak ku hiraukan dan bergegas kekamar mengambil sebuah smartphone diatas sebuah meja kecil di dekat almari.“astagaaa umiii” dengan nada kesal aku menuju dapur, dari kejauhan terlihat raut wajah umiku yang begitu senang karena berhasil mengerjaiku.“umi inikan masih jam 6, umi bohong”. Melihat ekspresiku yang semakin kesal membuat tawa umi semakin menjadi, tawa itulah yang mengahangatkan suasana rumah di pagi ini.
Begitulah umiku menjadi alarm terbaik didunia, ketika aku meminta di bangunkan saat jam 7 umi malah membangunkanku jam 6 dan mengatakan bahwa sekarang jam 8.
Jam berdenting dengan di iringi suara guyuran hujan, di ruang makan terlihat sebuah jam dinding menunjukkan jam 7.15. aku bergegas beranjak dari meja makan untuk pamit kesekolah. Tiba-tiba kepalaku terasa pusing dan teramat sakit, badanku melemah disatu sisi tubuh, mual dan terasa kesemutan, penglihatanku pun semakin buram. Memang gejala rasa sakit ini sudahku alami sejak beberapa minggu yang lalu.
Di telingaku terdengar suara tangisan yang masih samar-samar dan percakapan beberapa orang, tersadar di tanganku sudah terbelit sebuah tali yang berisi cairan infus, dan oksigen dihidungku. Suasana yang mulai tenang dengan bau obat-obatan. Disebelah kanan, terlihat seorang malaikat tak bersayap dan kesatria yang tak berkuda, ya meraka umi dan abi ku. Disebelah kiri terlihat beberapa orang memakai almamater putih dengan stetoskop di telinganya.
“umi abi syahla di mana” dengan raut wajah yang begitu sedih “ syahla di rumah sakit, yang kuat ya nak”. Aku di diagnosa mengidap penyakit ependyoma yaitu terdapat tumor di bagian otak.
Satu minggu berlalu, aku di izinkan pulang kerumah oleh dokter spesialis yang merawatku, namun aku harus rutin meminum obat dan kemoterapi di rumah sakit. Efek samping dari kemoterapi yang rutin kulakukan membuatku harus rela kehilangan mahkota hitam di kepalaku. Karena kondisi fisik yang semakin hari semakin memperihatinkan, umiku memutuskan untuk berhenti menjadi guru disekolah dasar dan fokus menemani dan mengurusku di rumah.
Umi satu-satunya wanita terbaik dalam hidupku, dia selalu ada dan merelakan semuanya hanya untuk ku, dengan letih dia mengurusku di rumah dan sabar menemani ku melakukan perawatan berbolak-balik kerumah sakit.
Sampai suatu ketika aku merasa jenuh dan lelah menjalani hidup yang harus berhadapan dengan alat medis dan obat-obatan. Aku merasa tak seharusnya aku hidup dengan menyusahkan orang sekitar ku”tuhan rasa nya aku sudah tidak ingin hidup lagi” ucap ku dalam jiwa yang teramat lelah.
Jam menunjukan pukul 22.00 aku mengalami kesulitan tidur dan hanya terbaring memejamkan mata dengan pikiran yang masih terjaga. Terlihat seseorang memasuki kamarku, memasangkan selimut dan duduk mengenggam tanganku.
“syahla, yang kuat ya sayang. Umi selalu ada buat syahla, kalau syahla menyerah bagaimana umi bisa semangat nyari obat buat syahla.umi sayang syahla”Suara yang kemudian menjauh dan membuatku merasa bersalah saat aku mulai menyerah diatas kerja keras kedua orang tuaku yang menginginkan kesembuhanku.Saat sholat subuh, diatas kursi roda aku menuju kamar umiku. Terlihat seseorang yang sedang berdzikir sehabis sholat. Dari belakang perlahan aku turun dari kursi roda dan memeluknya dari belakang.
“umi, syahla sayang umi. Syahla minta maaf kalau syahla pernah menyerah dan buat umi sedih. Bagi syahla umi bak sinar mentari yang begitu terang menerangi gelap hidup syahla. Umi segalanya bagi syahla, umi nafas buat syahla,tanpa umi syahla mungkin sudah tidak bernafas lagi. Umi jikalau syahla di beri waktu lebih lama untuk bersama umi, izin kan syahla meneladani uwais al qorni, yang namanya di kenal sampai ke langit karena berbakti kepada ibunya. Terimakasih umi telah sabar merawat, menyangi dan mengarungi nafas dunia bersama syahla. Sekali lagi terimakasih umi atas semua jasa umi yang tidak dapat syahla balas.”
Dengan air mata yang membanjiri pipinya, ia hanya diam sambil memelukku.
Terimakasih umi, ucap mu menjadi do’a untuk ku, ridho Allah ada padamu. Telapak kakimu terdapat syurga bagi ku.kasih sayang mu sepanjang waktu. Umi kau malaikat tak bersayap bagiku, menjadi nafas dan pelindung saat dunia tak lagi ingin mengenalku.
Leave a Comment