Menembus Batas Keterbatasan
Menembus Batas Keterbatasan
Oleh
Dunia bak fatamorgana panggung sandiwara para aktor yang pandai berdrama. Dunia tempat di mana jika kau sukses ia akan menghormati mu dan jikalau kau gagal cemoohan lah yang akan menertawai mu.Dunia di ibarat kan setetes air di tengah lautan yang begitu luas, jikalau kau mendapatkanya jangan lah berbangga, karena itu hanya setetes air, dan jika kau tak mendapatkan nya jangan bersedih karena itu hanyalah setes air.
”Lalu! Apa yang mereka banggakan ketika dunia hanya lah setes air, mengapa! Mengapa hanya yang sukses dan yang mempunyai kelebihan lah yang menjadi aktor utama di balik topeng kepalsuan duniawi, bagai mana dengan ku? Apakah aku akan selamanya menjadi budak cemoohan para aktor yang pandai berdrama itu?” tanya ku dalam jiwa yang pikiran nya entah kemana.
Delis, begitulah panggilan akrab ku. Seorang gadis berjilbab dengan kaca mata yang selalu menghiasi ke dua mataku, berkulit sawo matang dengan tinggi 152 cm, seorang gadis biasa dari pelosok yang jauh dari kata kekinian, penampilan khas gadis pedesaan dengan gaya yang terkesan norak.
Delis, si bungsu dari empat bersaudara, gadis 17 tahun yang mempunyai cita-cita yang menurut pandangan orang adalah sesuatu yang gila yang tak munggkin dapat di wujudkan. Delis, seorang gadis kampung dari keluarga yang tidak mampu, ya itulah aku si delis yang di anggap gila karna mimpinya.
Aku seorang gadis kampung 17 tahun yang bercita-cita ingin menjadi seorang spesialis kedokteran penerbangan, dengan biaya yang tidak mencukupi dan pendidikan di kampung yang kurang memadai serta kebudayaan yang kental di desa ku, pernikahan dan perjodohan di usia dini.
Itulah mengapa aku di anggap gadis gila yang bermimpi terlalu tinggi. Ayah dan ibu ku seorang petani yang bekerja di persawahan seorang juragan kaya di desa. Aku mempuyai dua kakak laki-laki dan dua kakak perempuan di mana semua abang dan saudara perempuan ku telah di jodohkan dan dinikah kan saat usia masih remaja.
Dengan tradisi yang masih sangat kental di mana pendidikan di anggap sangat tidak penting, terutama bagi seorang perempuan, “untuk apa sekolah tinggi-tinggi toh nduk, nanti ujung-ujungnya juga bakalan di dapur toh ya” kata kata yang terlalu sering ku dengar dan terasa basi di kuping ku.
Di kampung ini, dimana sekolah hanya di jadikan tempat penantian akan pernikahan, aku ingin menjadi agent of change perubah pola pikir masyarakat akan pentingnya pendidikan meskipun aku di anggap gadis gila di kampung ini.
Aku menghabiskan waktu untuk belajar dan membaca buku di setiap sela waktu luang, meskipun ocehan kedua orang tua yang selalu ku dapat saa belajar , bahkan aku menjadi stu-satunya penentang akan perjodohan dan pernikahan di usia din di kampung ini, meskipun aku harus di kucilkan oleh keluarga ku sendiri yang menganggap waktu ku habis untuk hal yang di anggap sia sia.
Aku menyakini dengan belajar yang rajin aku dapat menjadi perubah dan mewujudkan cita-cita yang di tantang oleh orang tua ku sendiri dan seluruh orang kampung. Tak apa saat mereka menganggap ku gila maka saat itulah semangat belajar ku bertambah, aku ingin membayar cemoohan itu dengan suara lantang tepuk tangan kesuksesan ku di masa depan.
Jika merenung, sering kali tak ku sadari ada butiran bening tetesan air yang jatuh dari kelopak mata ku, bagai mana tidak, hati ini bak tertusuk sembilu yang begitu tajam ketika tak ada satu orang pun yang menyukaiku bahkan ke dua orang tua dan saudara saudara ku sendiri menjauh dari ku hanya karena aku mengejar pendidikan .Tak apa mereka tetap keluarga bagi ku.
Seorang fisikawann terkenal pernah berkata “ sesulit apapun hidup, pasti ada suatu hal yang bisa kamu lakukan dan sukses di sana, yang terpenting adalah jangan menyerah”
Dan B.J Habibi pun pernah berkata” di mana pun engkau berada, selalu menjadi yang terbaik dan berikan yang terbaik dari yang bisa kau berikan”
Kata-kata merekalah yang menjadi motivasi tersendiri bagi ku untuk tetap bertahan dan berjuang meski dunia sekalipun yang menjadi penentang akan cita-cita ku.
Sampai suatu ketika aku mendapatkan undangan yang belum pernah ku bayangkan sebelunya, undangan di terima sebagai mahasiswi UI jurusan kedokteran spesialis penerbangan dengan beasiswa full, awalnya aku masih mendapat pertentangan dari orang tua ku tapi pada akhirnya mereka luluh dengan sendirinya, mereka mengizinkan ku melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia.
Tekat ku semakin bulat, dengan pil cemoohan yang begitu pait, aku semakin menjadi pribadi yang tetap semangat menggapai mimpi yang di anggap tidak munggkin.
Empat tahun berlalu, aku lulus dari Universitas Indonesia dengan nilai yang begitu bagus dan berhasil menjadi seorang dokter spesialis penerbangan akupun menjadi satu-satunya dokter spesialis penerbangan di sebuah bandara internasional.
dengan gaji yang begitu besar, aku mewujudkan sesuatu yang dianggap tidak mungkin menjadi mungkin. akhirnya aku menjadi perubah pola pikir masyarakat tentang penting nya pendidikan dan membayar semua cemoohan yang selama ini menjadi pil terpahit dalam hidup ku, dengan kesuksesan yang aku dapat kan saat ini.
Aku mendirikan sekolah yang memadai dengan berbagai fasilitas cangih nan lengkap di kampung ku, dan aku menjadi gadis gila yang mewujudkan mimpinya dan di terima kembali di lingkungan masyarakat. Tidak ada lagi perjodohan dan pernikahan di usia dini, dan para wargapun mulai menyadari begitu penting arti pendidikan.
Inilah kisah ku, kisah si delis gadis yang di anggap gila yang berhasil membayar cemoohan dunia, memang benar tak ada yang tak munggkin ketika kau mau berusaha.
Kuncinya hanya satu! “Jangan menyerah” ketika kau menyerah semua selesai, namun jikalau kau tetap semangat tanpa ada kata menyerah maka kau akan berhasil menjadi penembus dinding keterbatasan yang di anggap tidak munggkin.
Terimakasih, untuk mereka yang selalu memberi ku pil pahit berupa cemoohan yang membawaku ke pintu kesuksesan.
Leave a Comment