Pelita
Pelita
(Oleh: Vegia Oviensy)
Seseorang berkata“gelap tak selamanya kelam” ya aku percaya akan hal itu, di dalam gelap ku temukan setitik cahaya. Ibarat malam pasti ada bintang yang menerangi meskipun cahayanya tak seterang bulan, begitupun dalam gelap pasti ada pelita yang memberikan sinarnya meskipun tak seterang matahari.Ini hidup ku hidup dalam kegelapan dengan sebuah pelita yang selalu ada bersama ku. Aqila Naura yang kerap di panggil Kila, gadis aneh yang selalu berada dalam gelap, usia ku 17 tahun, gadis berambut panjang dengan warna agak kecoklatan, berkulit putih dengan dua lesung pipi, cantik! Tapi sayang, aku hanya lah seorang gadis yang di anggap aneh, tidak bersekolah, tidak keluar rumah dan tidak mempunyai teman.
Aku hanya tinggal di rumah bersama seorang ayah yang sekaligus seorang guru bagi ku, ibu ku telah wafat saat aku berusia 5 tahun, ayah ku adalah seorang guru sma di desa tempat tinggal kami. Kila, seorang gadis penderita xeroderma pigmentosum atau yang lebih di kenal dengan alergi sinar matahari. ini lah yang menyebabkan ku hanya bisa hidup dalam gelap, aku hanya di bolehkan keluar rumah oleh ayah ku saat matahari telah terbenam.
17 tahun telah ku habiskan waktu berada di rumah dengan suasana tampa cahaya matahari, aku tidak bersekolah seperti remeja seusiaku pada umumnya, aku hanya sekolah di rumah dengan seorang guru sekaligus ayah bagi ku. Ia tak hanya mengajarkan ku tentang ilmu pengetahuan pada umumnya tetapi ada satu pelajaran yang lebih berharga yang munggkin tak akan di dapatkan di sekolah umum yaitu, tentang semangat hidup.
Pak bram begitulah panggilan akrab beliau, setelah sholat subuh dengan secangkir kopi dan roti tawar beliau mengawali pagi menyambut embun dan udara dingin pedesaan. Jika sang surya telah menampakan dirinya, beliau dengan semangat yang begitu besar bergegas mengayuh sepeda tua untuk tepat waktu menunaikan kewajiban nya mendidik anak bangsa.
Melewati rumah warga, perkebunan teh dan sungai yang kadang kala pada musim penghujan air nya meninggi, karena di desa ini belum ada fasilitas yang memadai untuk transportasi penghubung seperti hal nya jembatan yang layak untuk di tempuh. Yang rela hujan-hujanan panas-panasan bahkan dalam keadaan sakit pun belaiu tetap menunaikan kewajiban mendidik anak bangsa.
Sepulang dari mengajar beliau melanjutkan pekerjaan tambahan untuk menambah penghasilan. Ia bekerja sebagai guru mengaji di mushola desa seberang, kadang kala juga bekerja di persawahan warga dengan gaji yang tak sebanding dengan tetesan keringatnya. Namun ia tetap semangat demi mempertahan kan hidup ku. Karena tak cukup penghasilan hanya mengajar di sekolah untuk membeli obat-obatan ku yang menghabiskan jutaan rupiah dalam satu bulan.
Setelah menyelesaikan pekerjaan tambahan, baru lah beliau menjadi guru bagi ku di rumah, meskipun telah letih dengan pekerjaan nya, namun semangat dan senyumnya tetap ia tampakan saat mengajari ku di rumah.
Ia selalu berkata kepada ku “jangan pernah mengeluh atas kekurangan mu, karena kekurangan akan mengingatkan mu untuk terus mencari kelebihan yang ada dalam dirimu” kata-kata itulah yang selalu memotivasi ku bertahan dengan kekurangan yang ku miliki.
Itu lah ia dengan keseharian yang terus menebar ilmu, menebar semangat menjadi sosok guru bermutu yang melahirkan ribuan orang hebat. Ia telah mengabdi sebagai pelita dalam gelap selama berpuluh puluh tahun.
Dia sosok yang menjadi penyemangat ku untuk berkarya dalam keterbatasan, saat ia mengajar di pagi hari, aku menghabiskan waktu ku dengan kegelapan tanpa sinaran sang surya dengan rumah yang gorden nya selalu tertup, hanya menjadi seorang gadis yang menghabiskan waktunya membaca dan menulis novel sembari menanti sang pelita ku pulang.
ia memamang pelita yang cahayanya tak seterang mentari, namun bagi ku dia lebih berharga dari mentari. Dengan didikan nya yang tulus dan ilmu yang selalu ia berikan bukan hanya kepada ku tetapi juga kepada anak bangsa. Cahayanya memang hampir redup, tetapi tidak akan padam, karena ia di kelilingi cahaya cahaya ilmu anak bangsa.
Embun pagi mulai turun, udara dingin pedesaan mulai menusuk ketubuh yang membuat semua orang engan bangun dari tidur dan kamar yang menghangatkan. Pak bram, orang yang kerap ku panggil ayah tetap memulai pagi dengan semangat, tak seperti pada pagi-pagi sebelum nya beliau bangun lebih awal sebelum ayam berkokok.
Dari dalam bilik kamar ku dengar suara ketukan pintu “kila, bangun nak kita sholat berjama’ah “ suara dari balik ketukan pintu itu.
Dengan rasa engan yang teramat dalam aku hanya mengiya kan saja dari dalam selimmut dengan keadaan yang masih kurang kesadaran.
Bebrapa saat kemudian terdengar suara dentingan gelas, yang membuat ku terjaga dan bangun dari tempat tidur ku. Bergegas aku berlari membuka pintu kamar ku dan menuju sumber bunyi pecahan gelas tersebut.
Dengan detak jantung yang tak menentu, dengan tangan yang gemetar dan air mata yang membasahi pipi, ku temukan ayah tergeletak di lantai dengan wajah yang pucat dan badan yang begitu panas.
Dengan kebingungan perlahan aku beranjak menjauhi ayah dan bergegas keluar rumah meminta bantuan tetangga,
Bantuan pun datang, beliau di bawa ke puskesmas terdekat,karena matahari mulai menampakan dirinya,aku tak bisa menemani ia di rumah sakit. Dengan air mata yang terus mengalir, dan rasa marah terhadap diri sendiri yang tak bisa berbuat apa apa.
Aku bahkan tak tahu bagaimana keadaan nya, di sudut kamar yang gelap dengan tangisan yang tiada henti aku berharap matahari cepat menenggelamkan dirinya agar sang bulan bisa mengiring ku bertemu ayah.
“kila.... kila.... kila” terdengar suara dengan tangan yang membangunkan ku, astaga aku tertidur sepanjang siang. “kila bangun nak” suara buk aminah yang berdiri tepat di samping tempat tidur ku .buk aminah tetangga sekaligus orang yang telah aku anggap sebagai nenek ku.
Lalu beliau mengantarkan ku ke tempat dimana ayah di rawat
Dengan bau obat yang menyengat dan begitu banyak orang , dari satu kamar yang tenang ku lihat ayah ku terbaring tak berdaya,dengan tangisan aku berlari memeluknya, tangisan ku pecah seketika di pelukan nya.
Dengam senyum yang menenangkan ia menghentikan tangisan ku.”kila kan udah besar,kok nangis?udah jangan nagis lagi ya! Ayah ngak apa apa . cuman sedikit kecapean aja.”
Suasana mulai tenang.” Kila, kamu anak yang berbakat dengan kekurangan mu,kamu janji sama ayah ya nak, suatu saat kamu akan mengembangkan bakat mu menjadi penulis terkenal dengan novel novel yang kamu tulis” aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
Perlahan senyuman itu mulai pudar, suara jantung tak lagi berdetak,”apa yang terjadi”tanya ku dalam batin. Semua tangisan seakan pecah saat aku mengetahui fakta pelita ku telah tiada.
Orang yang selalu memberi ku cahaya tak lagi bersinar di bumi ia telah bersinar sebagai sosok bintang di langit.
Beberapa bulan setelah ujian terbesar itu, aku mulai bangkit dan melalui hari hari seperti biasa,di rumah yang ku rasa semakin gelap, ku coba mengikhlaskan sang pelita hidup ku, dengan ketenangan aku memulai kembali menulis novel novel yang sempat aku janjikan pada ayah ku
Di usia 19 tahun akhirnya aku berhasil menjadi seorang novelis dengan kekurangan ku,ya seorang novelis yang hanya belajar di rumah dan keluar bersama kunang kunang dengan di iringi cahaya bulan.
- Tanpa pendidikan yang di ajarkan ayah ku,aku tak akan yakin dapat menjadi seperti ini,dengan tulisan demi tulisan yang seakan membuming pada saat itu”ayah aku berhasil” dengan tetesan air mata aku kembali merindukan sosok pendidik dalam hidup ku.
Pelitaku memang telah pergi,namun cahayanya akan selalu terang di bumi dengan ilmu ilmu yang telah ia wariskan.
Saat semua orang bersinar dengan kesuksesan mereka, maka ku anggap cahaya pelita ku lebih terang dari mentari.
Leave a Comment